Essay Seorang Murtad Morrissey

BAB 1: Perkenalan

Suatu pagi di sebuah kantin sekolah pada awal tahun 90an, saya memutuskan untuk tidak masuk kelas. Karena saya benci pelajaran Matematika. Ternyata saya tidak sendiri ada banyak kakak kelas yang tengah merokok dan menyeruput kopi sementara yang lain ada yang bermain gitar (saya sangat merindukan momen ini). Tak sengaja terdengar percakapan diantara mereka ”Eh, tau gak ternyata Morrissey itu dulunya punya grup lho namanya The Smiths!” (sudah saya terjemahkan, aslinya bahasa Swahili). Saya cuma bisa menoleh. Oh. Ok. Maaf telinga saya pada saat itu sedang dijejali Pearl Jam, Nirvana, The Smashing Pumpkins, U2 dan band  sejenisnya. Itu adalah kali pertama saya mendengarkan kata Morrissey. Maafkan saya Moz sudah mengabaikanmu.

Agak susah buat saya pada saat itu untuk mencari kaset atau CD Morrissey. Informasi itu datang dari mulut ke mulut. Internet pun belum ada (?) Begitu berharganya tape double deck pada saat itu karena saya hanya bisa merekam ulang dari mereka yang mempunyai kaset atau CD-nya.

BAB 2: Pendekatan

Album pertama yang saya dengar waktu itu adalah Viva Hate. Bajakan dari bajakan. Suaranya mendem. Padahal sudah saya simpen di kulkas seharian lho. Lagu yang nempel di telinga saya itu cuma Suedehead dan Everyday Is Like Sunday. Itu pun tidak terlalu membekas. Karena TOEFL saya belum mencapai 750. Sekarang sih udah 250.

Seiring waktu berlalu. Era internetpun dimulai. Maladjusted pun rilis. Radiopun mulai memutar lagu Alma Matters walau tidak sering. TV lokal pun kalo tidak salah sempat menayangkan videoklipnya. Sayapun mulai intens mendengarkan lagunya. Wide To Receive, Trouble Loves Me jadi lagu favorit saya. Tapi tetep belum terlalu mengena. Sekedar suka.

BAB 3: Jatuh Cinta

Pada tahun 2004, setelah Maladjusted (1997), Moz mengeluarkan You Are The Quarry, album terbaik dan sebuah titik balik. Membuatnya jadi lebih besar dari sebelumnya. Masih ingat U2 dengan All The Things That You Cant Leave Behind-nya? Dari sini saya mulai mendalami lirik lagu Morrissey. Mulai membaca referensi mengenai dirinya melalui internet tentunya karena murah meriah. Kan saya mah Murtad Morrissey.🙂

Semakin saya mendalami musik dan tentunya lirik Morrissey saya tambah suka dan mencintainya. Karena mendengarkan Morrissey tanpa mendalami liriknya maka musiknya hanyalah sebuah lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi dari Inggris yang bersuara merdu. Tidak lebih dari itu. Bayangkan saja jika anda mendengarkan Bob Dylan tanpa mendalami liriknya. Ya seperti itu. Feel-nya gak dapet cenah.

Jeniusnya Moz itu adalah dia bisa menyisipkan kritik sosial di dalam lagunya yang sendu, gelap, termarjinalkan (naon ieu teh?). Dia sudah melakukannya dari jaman The Smiths. Coba dengarkan Panic, Big Mouth Strikes Again atau Queen is Dead.

Selain itu yang membuat saya jatuh cinta dengan Moz adalah sikapnya yang anti dengan Monarki dan pemerintahan Inggris. Juga sebagai aktivis penyayang binatang dan pernyataan-pernyataan kontroversinya khas rockstar Inggris.  Sebut saja perseteruannya dengan Robert Smith, Elton John, Madonna, George Michael dan banyak lagi. Moz menyukai kontroversi, sedikit drama, tapi itu yang membuatnya jadi lebih besar. Dia selalu memilih ‘lawan’ yang tepat walau kadang lebay.

Oh satu lagi, Moz menyatakan dirinya selibat (entah mulainya dari kapan, tidak pernah ada pernyataan resmi). Moz juga menyatakan dirinya sebagai gender yang keempat yang artinya asexual (juga tidak pernah ada pernyataan resmi)

BAB 4: Ijab Kabul

10 May 2012. Hari yang ditunggu. Tidak perlu penjelasan lebih lanjut. 

 

BAB 5: Bulan Madu

Sesuatu hal yang bagus dari seorang Morrissey (atau The Smiths) adalah semakin anda mendengarkannya anda tidak akan pernah bosan mendengarkannya. Anda akan selalu mempunyai lagu favorit baru. Itu yang saya alami.  Entah kenapa. Itu tidak terjadi dengan musisi lain yang saya dengarkan. Namun sampai sekarang saya tidak mempunyai kaset, cd, vinyl, kaos, buku, atau tato mengenai Morrissey/The Smiths di tubuh saya. Aneh? Mungkin. Ya itulah saya, seorang Murtad Morrissey🙂 Terima kasih sudah membaca essay ini.

Oya! Selamat ulang tahun yang ke 53 Steven Patrick Morrissey! I know that life is full of chrashing bores, so sing your life, your love life, but you once said that one day goodbye will be farewell so whatever happens i love you cause that’s how people grow up. But that’s ok, cause you’re the last of the famous international playboy. See you!🙂

nb:

foto yang ditampilkan punya @popalogic, @ivanhadi, @gigiiii_, @mawarnawarni dan saya sendiri.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s