Lelaki Harimau, Samurai, dan Bahasa.

Sebetulnya saya sudah lama mengenal nama Eka Kurniawan. Beberapa tahun lalu mungkin. Tapi saya baru mempunyai kesempatan untuk membaca bukunya beberapa minggu lalu. Itupun baru satu. Lelaki Harimau. Karena katanya buku ini masuk nominasi di Man Booker Prize 2016. Saya sudah membacanya. Saya juga sangat memahami buku ini dari segi cerita, latar belakang dari lokasi dengan segala kebiasaannya. Apa yang terjadi di buku tersebut saya sangat paham. Itu yang terjadi di daerah saya di sekitar tahun 1980an.

Gaya bercerita dari Kang Eka ini yang membuat saya tersenyum. Apalagi setelah mengetahui endingnya. Okay. Shit! Ini sih Pulp Fiction versi novel. Dengan alur cerita yang maju mundur yang sempat membuat saya stagnan setelah memasuki bagian tengah. Tapi mulai cepat membaca ketika mulai bercerita mengenai Komar Bin Syuaib dan segala kisahnya. Apakah Pulp Fiction menginspirasi gaya bercerita, Kang Eka? Atau ada film atau buku lain yang menginspirasi?

Tapi ada dua hal yang mengganjal di buku ini. Satu. Penggunaan kata “Samurai”. Apakah Kang Eka sengaja menggunakan kata itu? Karena kita tahu penggunaan kata yang benar adalah “Katana”. Tapi jika kita mundur ke tahun 80an mungkin kata itu yang lebih populer dan pembaca tahu bahwa “Samurai” yang dimaksud adalah pedang dari Jepang. Dan mungkin juga Kang Eka lebih suka menggunakan kata tersebut dibanding dengan “Katana” yang orang belum mengetahui mungkin akan merujuk ke merek mobil dari Jepang. Dan saya belum tahu hasil terjemahan dari versi bahasa Inggris ini apakah tetap menjadi “Samurai” atau “Katana” atau “Sword” mungkin. Saya belum tahu. Belum baca bukunya.

Satu lagi adalah penggunaan kata “Bahasa” yang ditulis oleh Tariq Ali, di halaman belakang. Apakah tidak sebaiknya menggunakan Indonesian? Karena “Bahasa” kita tahu artinya adalah “Languange” dalam Bahasa Inggris. Memang kata “Bahasa” yang merujuk sebagai Bahasa Indonesia oleh bule telah terlanjur populer dan banyak digunakan. Walaupun agak salah kaprah menurut saya.

Itu saya uneg-uneg saya untuk sementara. Dan saya resmi menjadi penggemar Kang Eka dan buku-bukunya. Walau baru baca satu. Tapi saya pasti baca semuanya. Terima kasih jika tulisan ini sudah dibaca. Dan saya akan sangat berterima kasih jika Kang Eka bisa memberi komentar mengenai uneg-uneg saya.

Wawancara Yang Berbahaya

LINIMASA

Di penghujung tahun itu biasanya ada film tahun ini atau album tahun ini. Hal yang biasa dilakukan oleh para kritikus film dan musik atau siapa saja yang pengen komen. Nominasi Golden Globe sudah keluar dan pemenangnya akan diumumkan di awal tahun depan. Sekitar bulan Februari biasanya, berdekatan dengan NBA All-Star dan Grammy Awards lalu ditutup dengan gelaran Oscar di bulan Maret.

Ada yang menarik yang terjadi di dunia perfilman Hollywood ini. Selain tahun ini filmnya yang tidak setematik tahun lalu. Walau ada film yang patut diwaspadai itu seperti film Boyhood, Ida, Foxcatcher, Gone Girl, Selma, Birdman, Under The Skin. Gone Girl itu bagus sekali sebetulnya. Berpotensi dapet nominasi atau bahkan bisa meraih banyak Oscar tahun depan. Setidaknya di kategori Best Director, Best Actress, Best Original Score dan Best Adapted Screenplay. Sayang tidak lolos sensor. Menurut sumber dari lapak sebelah katanya David Fincher tidak mau ada filmnya yang disensor sedikitpun. Ah…

View original post 420 more words

Rock And Roll Watergate

LINIMASA

Bagian Satu

Tiga puluh empat tahun yang lalu, hari ini, 8 Desember 1980– adalah hari dimana John Lennon tewas ditembak oleh seorang penggemar bernama Mark David Chapman di sekitar apartemennya di The Dakota, New York. Mark sengaja terbang dari Hawaii hanya untuk meminta tanda tangan album terbaru dari John Lennon, Double Fantasy. Beberapa jam kemudian setelah bertemu dan mendapatkan tanda tangannya, dia menunggu Lennon pulang di sekitar apartemen dan menembaknya lima kali berturut-turut dari jarak dekat. Setelah itu dia duduk sambil melanjutkan baca buku Catcher In The Rhye (konon buku yang sangat mempengaruhi hidupnya) sampai polisi menangkapnya tanpa perlawanan.

Mark dilaporkan seorang Kristen yang taat tetapi mempunyai mental yang tidak stabil. Selalu berfantasi ingin terkenal seperti idolanya yang menghiasi dinding kamarnya. John Lennon adalah bukan satu-satunya daftar yang ingin dia bunuh. Ada Elizabeth Taylor, Johnny Carson, Marlon Brando dan Jackie-O. Tapi pilihan dijatuhkan kepada John Lennon setelah dia setelah…

View original post 297 more words

The Sicilian Scene

LINIMASA

Membaca tulisan dari Fa Dompas mengenai pendudukan Islam di sebagian Eropa, saya entah kenapa jadi teringat salah satu adegan di film True Romance. Adegan paling keren, cowok banget, lucu, mengenaskan tapi juga kontroversial. Kenapa kontroversial? Karena menimbulkan pertanyaan baru yang penting. Salah satu adegan yang paling fenomenal karya Quentin Tarantino–walaupun tidak seterkenal adegan Jules membacakan Ezekiel 25:17 di Hamburger Scene–tapi saya yakin Quentin tidak membuat naskah yang asal-asalan. Nama adegan itu adalah The Sicilian Scene.

            The Moors                The Moors

Pendudukan Islam di Eropa (terutama di Semenanjung Iberia dan Italian bagian Selatan) yang berakhir di abad 14 itu telah melahirkan keturunan bangsa Eropa yang “tidak bule”. Telah terjadi percampuran genetika antara bangsa Eropa dan Bangsa Moors yang berasal dari Afrika Utara. Harus diakui bangsa berkulit hitam pernah menguasai sebagian Eropa. Yeah that Sicilians still carry nigger gene. Sebelum Amerigo Vespucci menemukan…

View original post 171 more words

Selamat Pusing Memilih, Pak!

LINIMASA

Beberapa hari yang lalu Mark Zuckerberg, CEO Facebook, berkunjung ke Indonesia, setelah sebelumnya dari India. Banyak yang bertanya-tanya ngapain sih dia ke Indonesia? Lawatannya ke Indonesia sangat berbau politis karena presiden terpilih, Jokowi, akan segera dilantik. Sekarang sih sudah jadi Presiden RI yang ketujuh. Selamat ya Pak Jokowi.

Oh, rupanya dia ke Indonesia dalam rangka memperkenalkan proyek barunya yang bernama internet.org. Saya salah. Kirain mau selfie di Candi Borobudur. Menurut Zuckerberg, internet ternyata baru terjangkau oleh 1/3 penduduk di dunia ini. Artinya ada 2/3 penduduk sama sekali yang belum pernah melakukan aktifitas dengan koneksi internet.  PBB tahun 2011 telah mencanangkan bahwa akses koneksi ke internet adalah hak asasi manusia. Hal ini diantisipasi oleh Mark Zuckerberg dengan membuat internet.org tahun 2013 lalu. Internet.org dibuat oleh Zuckerberg dengan menggandeng Nokia, Ericsson, Mediatek, Samsung, Opera Software dan Qualcomm. Kemitraan global agar internet bisa dijangkau oleh 2/3 penduduk dunia yang belum dapat akses…

View original post 244 more words